Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

2/13/2011

Di Sore Jalan Andolo.




Ini kali pertama saya ke kota ini. Jalanan yang tidak cukup sulit dan cuaca yang tenang memberi damai. Ini kami sedang menghangatkan pandangan pada titik debu dikaca, pada awan yang menjelma menjadi bulir air di kaca spion, sementara laju kadang membuat kami melewatkan sedikit pemandangan yang terasa sempurnya.
Kali ini kami tidak mencoba menapih keinginan untuk sesuatu hanya kemauan untuk berjalan dengan agenda unik melihat-lihat. Secara pribadi mungkin akan kusimpulkan lain bahwa perjalanan iseng ini lebih mengajarkan aku memahami Ciptaan dan nusantara konon yang katanya luas dan memang tampak luas.
Kami menepi disebuah bukaan jalan sempit tak beraspal. Bilik seorang teman berada di atas bangunan bercat hijau muda. Sebelum berkeliling kami menyempatkan diri menikmati segelas kopi di Andolo. Kemudian memacu pedal gas bertujuan ke kantor pemda Konsel yang tepat beraja diujung kecamatan Andolo Konsel. Deden memacu waktu dan tak hitung jam sampailah kami disana, gundukan tanah yang terlihat indah dan berada diketinggian disitulah kantor Pemda Konsel ini berada.
Sebenarnya tidak ada yang terlampau menarik. Hanya saja saya menikmati perjalanan ini. Tanpa beban dan mencintai pohon dijalanan yang belum sempat tertebang. Mencintai pahatan alam dengan hijau yang aku rekam di kepala dan membuatku berpikir. Suatu saat hijau ini akan kembali kulihat entah dilain tempat. Dan aku semakin mendalami hijau dengan langit yang nampak semakin mendung. Aku menyukai alam terbuka

Di sore jalan andolo.




9/15/2010

tanpa judul

sadari tadi aku menunggumu disini. dihutan akasia randu dan jati. disini dulu kita pernah menyiangi diri sambil memahat nama lewat paut tangan kita yang kita bilang punya ciri. dulu ibu sering menggelengkan kepala karena kerap mendapati kita menguliti kambium. Lalu kita bilang ini akan jadi pohon raksasa dimana nama kita akan membentang melingkar mengikutinya. kitapun semakin sore, menendang kaleng bekas dan berlarian memintal batas waktu layaknya perjalanan datu Museng dan Maipa.

sekarang aku menunggumu disini, meminta kepada langit agar suasana mirip sebelumnya yang dulu itu, atau sedikit sama. ekor senyummu masih dipelepah daun jati kering itu kau tanam tempo hari. aku bertanya untuk apa?. dan kau menjawab suatu saat sejarah akan menceritakannya kembali kepada kita tentang bisik akasia randu dan jati saat magrib menyusahkan kita kembali kerumah. Tahukan kamu seberapa kali kita mencoba interupsi tentang batang-batang hari yang kita lewati dibenih yang muda, mengapa mahameru dicipta kolosal, mengapa niagara termahsur sampai ditelinga kita, rahasia itulah yang membuat kau membungkus mimpimu dipagi hari berharap sore lipatannya bisa tetap rapi sedia kala.

sekarang aku menunggumu disini. ditempat duduk tak bersandar, dibangku batu yang sudah khatam mengenal keluh kesah kita setelah seharian dimarahi bapak karena bolos bersekolah,dan kau lebih memilih banyak menghabiskan sisa waktumu disini.

Meski demikian telah lama lalu, namun kini namamu telah berubah menjadi serat dan akar. Intuisi menerka rekaman masa silam. ada lipatan kesedihan disini namun lebih banyak bentangan kebahagiaan kita merapi dibawah pohon. jika kata orang cinta itu nama lain dari pengorbanan, maka ini yang patut kita pertanyakan apakah yang tengah kita rasakan ini adalah cinta atau hanya pengorbanan.

lalu dicermin ku ukir namamu uap ragu-ragu kubaca seperti ini:

AMBUN POPPY

Andai aku masih akan menemuimu kelak
Mungkin pada batang dan jarak tunas dengan akar sedemikian jauh melampaui kita
Biar nadi sudah terlalu sering dijadikan puisi dan
Untuk lupa karena aku tak sempat menitipkan sesuatu untuk sekedar kau ingat kelak.
Namun alangkah senangnya menjadi karibnya kita selama beberapa tahun hingga sekarang

Pada ranting yang sempat kering tak lagi singgah pada batang melainkan jatuh ditanah
Onggok angin sekonyong itu telah menghempas dadamu tanpa ragu
Pasti sakit katamu. walau perih bisikanmu seperti jimat dalam dada kita. dan
Pula Akhirnya kita akan kembali diam menggendong lutut sambil berdekap kuku
Yakinlah bahwa tinggal ini kawan, rayuan untuk membuatmu semakin iman kepada rajam bahwa aku dulu dan sekarang hanya beda usia, karena sela diantara jariku masih ingin kau ripit dengan tanganmu untuk sekedar menarikku kembali duduk di bangku batu kita pagi hingga sore

Maniskan?...
kita mendalaminya
walaupun banyak kisah pedih yang sudah pasti merajam nasib, tahukah kamu bahwa ternyata kita ada satu malam, ada satu hari, ada satu minggu, ada satu tahun, satu abad yang berjarak namun dekat walau tak bisa saling bersentuh, namun kekuatannya melebihi tarikan kutub-kutub.

Mari kuikat jajar namamu pada DOA

Ampuni dan muliakan dia siang dan malam
Mungkin eratkan setiap keraguannya menjadi pilar namanya sabar
Bila nanti kala iya merasa sendiri, perlihatkan kepadanya arti kekuatan cinta disekelilingnya
Untuk kemungkinan yang membuatnya menjadi merugi ajari dia cara mendekatkan jidatnya kepada kebesaran-Mu
Nanti, Rangkul kala rapuhnya

Pagari kepadanya kesanggupan memecah kesedihan
Olehnya selamatkan dia dari ketakutan yang menjepit perasaannya
Pastikan alamat setiap kemudahan terhadap segala usahanya
Pagut untuknya nikmat-nikmatmu.
Yakinkan bahwa hidup seperti mengeja cuaca....



Untuk arti nama yang sering kamu pertanyakan pada angin, maka nama itu adalah DOA....


foto dari sini : http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://catatansiadhi.files.wordpress.com/2010/05/sahabat.jpg&imgrefurl=http://catatansiadhi.wordpress.com/&usg=__hDrvDmFac-oJqur3ioMgqpbhFxk=&h=640&w=475&sz=206&hl=id&start=0&zoom=1&tbnid=yIhbPyPL7g9fcM:&tbnh=131&tbnw=97&prev=/images%3Fq%3Dsahabat%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN%26biw%3D1024%26bih%3D576%26tbs%3Disch:1&um=1&itbs=1&iact=hc&vpx=675&vpy=78&dur=285&hovh=261&hovw=193&tx=62&ty=149&ei=iAORTNylOYzevQPk-ojMCw&oei=iAORTNylOYzevQPk-ojMCw&esq=1&page=1&ndsp=15&ved=1t:429,r:3,s:0

12/12/2009

Cerita Sepotong Malam

Kita kembali menapaki lajur-lajur sepi jalan yang dulu pernah memberikan kita banyak hal. Ada banyak makna bahkan kenangan yang tak rangus dimakan roda jaman yang terus lapuk menua. Walau tak persis seperti dulu, tapi banyak konstruksi yang tidak berubah, ada ornament yang tetap khas dengan tarikan pahat ukiran khasnya.
Beberapa saat yang lalu kamu menceritakan itu kepadaku. Walau kuakui tak terlalu sering menyimak ceritamu, ada yang tetap membekas. Misalnya saja tentang impian pada suatu hari dibagian malam yang syahdu bersamaku. Atau sepotong harapanmu mengenai abdi yang akan kau kokohkan untuk satu-satunya mimpi yang terindah bagimu yaitu bersamaku dalam setiap keadaan.
Ditelingaku sering terbisik ucapan-ucapan halus penuh harap. Walau aku takut mengecewakanmu, aku kadang juga takut memenuhi harapanmu.
Disuatu malam yang berbeda kau jelaskan kepadaku tentang bintang yang indah, tentang cerita sepotong malam yang selalu kau jemput dalam lamunanmu. Dipundakku sering kau sandarkan peluh karena bahagia atau sedih karena pedih. Dan terkadang kau sengaja mengajakku untuk melepaskannya lewat cerita sepotong malam yang kita sisa.
Namun cerita akan selalu sama dengan sebelumnya. Disaat pertama kita dipinggiran jalan itu atau saat setelah kita pergi dan sekarang kembali menengok rauh tangan halusmu dulu disini lewat hari yang sekarang.
Aku rindu pada sepotong cerita malam yang sering kau suguhkan….
Setelah aku disini aku malah sering bisa mengingat cerita indah itu tanpamu, atau tak lengkap cerita itu tanpamu. Aku rindu harap-harapmu pada keadaan kita yang sederhana, pada jalan kita yang temeram mendekati abu-abu….
Namun itu sepertinya akan berubah sepanjang cerita malam kita masih lengkap dikumpulkan malam yang dulu kita lewati. Masih cukup kuat untuk mega dengan dukungan doa alam yang tau betapa besarnya rasa sayangmu padaku dan sebaliknya. Jika itu masih demikian, demikian pula aku harap malam setelahnya bertahun-tahun. Karena aku ingin menyisihkan malam tanpamu dengan selalu denganmu. Malam melopong tapi menjadi indah dengan cerita-ceritamu yang sering. (Kendari 13 Desember) saat mengingatmu dimalam yang lain.

8/08/2009

Permudahlah Cerita Itu

Mimpi apa aku semalam.?. sepertinya tidak ada yang istimewa hadir dengan setangkai bunga tidur. Tapi itu bukan jadi alasan untuk merasakan hal yang luar biasa ini. Gadis itu, tak pernah bersemayam dalam lamun-lamunanku. Tak pernah terbesit dalam khayalku. Ia tiba-tiba saja hadir menggoreng tulisan diatas bukuku bahkan mengambil tempat dibagian sampul hariku hari ini. Bahkan, tak hanya menggores, lebih dari itu. Dia menggetarkan hatiku. Huf.....
Kaos yang dikenakannya berwarna pink, mungkin lebih mirip warna jambu air sepertiga ranum. Manis sekali. Tak ada accessories berlebih dikenakannya. Hanya baju pink berpadu dengan celana puntung jins sedikit ngepres. Rambutnya tidak terlalu panjang tapi tidak juga pendek. Mungkin, 10 senti dibawah bahu kepunggung dirapikan dengan ikat rambut seperti karet namun agak sedikit berbulu halus warna biru soft. Dia tampak anggun dengan itu.
Dihadapannya sebuah PC komputer ia utak-atik ketika tamu-tamunya berdatangan keluar masuk. Bingkai-bingkai foto dan nota pembayaran ada disamping sebelah kanannya. Tak jarang ia tersenyum manis untuk tetamu yang keluar masuk. Senyuman yang hangat tanpa tedengaling-aling, dan tanpa dirampas sambutan yang tidak ramah.
Ya.... katanya kepadaku sudah lama ia bekerja sebagai kasir distudio foto ini. aku juga tak tahu jelas, kalau tidak salah baru dua kali aku ketempat itu selama aku dikota ini. Tak bisa juga kujelaskan perasaanku kali ini melihat gadis yang namanyapun belum sempat kutanyakan. Cuma, kali ini seperti terasa lain, aku begitu tak bisa melepaskan senyumannya dalam ingatan sederhanaku hari ini, dan imaji yang dia pahatkan senyumnya. Ingin sekali rasanya memastikan semua yang terasa. Mungkin ceritanya besok akan lain, hilang atau malah akan terus merusak kesadaranku tentang dia.
Semoga besok aku bisa melihanya lagi, semoga besok aku bisa bertemunya lagi, semoga besok bisa mengetahui namanya. Semoga besok....................... Aku tahu siapapun dia dan tentang apapun mengenainya..... Amin.

Maybe.... to be a continue