Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

6/07/2011

bukan megah, bukan sohor

Ini yang kau atas namakan cinta buat kami

kami kau ajari membaca buku-buku mantra yang telah seusia batu.
kami kau tunjukan bagaimana memuja tuhan lain yang kami belum sempat berkenalan.

kami baru saja menerima ajaran tentang harumnya menjadi sampah dalam bangkai.
kami mengikuti kuliah dengan biadab jadi guru berbaju pink

jalan ini belum terlampau sulit untuk kami lalui
apalagi hanya kebohongan kau tabur layaknya beling merobek telapak kami yang semakin tebal.
kami masih kuat.
berikan kami yang lebih rumit

lalu kami tidak pernah dihargai murka.
jangan salahkan kami jika memotong nadi aliran kebosanan ini
jika kami terlampau sakit...

bukan megah....
bukan sohor....
kami butuh peduli
sebab lebam kami semakin hari semakin merah saga.




10/14/2010

Jatah kami berupa kematian

 
Betapa lelahnya kita. 

Sering menaruh harapan pada paru burung.
Untung  kami sadar kemarin,
bahwa pot bunga didepan rumah kami ditembaki jadi isyaratnya. 

Lalu kami memesan kematian halus didegup jantung.
Tanpa sadar kau juga menambahkan bonus kematian dikepala. 

Indah sepertinya
Tolong setelah ini kami diberikan juga mesiu dari granat yang meletup didekat kamar tidur kami tadi pagi.

3/18/2010

hadiah ulang tahun dari wissanggeni... masih teman MP


Pertama aku ngirim ini buat tassyakuranmu temanku!!!...

Tak kubawa lentera untuk menerangimu dalam rinai gulita
karena tak sanggup kubuat sendiri
sempat kurakit ingatanku untuk menemuimu
dalam tiga prempat malam dibulan bisu

sepengatuanku yang sederhana
kau tiba-tiba kesumat yang binarmu menyembuh
gores belati perih yang sudah menahun

kupanggil kau dalam kangkangan rembulan bisu
untuk menakar akan aksara yang menjadi janin
ini dia, bagiku gelapmu adalah kekasih bait garis di atas mistar
kekasihmu adalah halaman putih
dan wajahmu memapar kolom bacaan kami

untuk kali ini kami setuju rindu berkalang adalah milikmu
binarmu yang itu sekali waktu akan menjadi penawar pahit
kemudian mereka bangkit dengan lisan yang menggagap
aku yakin namamu akan memajang di pagi dan di sore
lalu rindu berkalang akan menemukan jodohnya.


lalu  kau menambahkan ini.:

1
kau tahu Run, sebelum aku bertemu cahaya , aku sering bicara sendiri seperti ini :
kekalahan adalah , disaat mata bersitatap dengan matahari, tapi yang ia lihat cuma satu macam kegelapan dimana meski ia telah sekuat tenaga  membuka kelopak, cuma benang pucat  dari waktu yang  nampak. dulu aku pernah menduga, kekalahan adalah lawan kata kemenangan, seperti yang selama ini diartikan orang orang sehabis gosok gigi, seusai kenyang makan pagi. ternyata  tak semudah itu Run, kau akan tahu sukarnya sepelik mengeja cuaca. Aku disini, memutar mutar lingkaran sebuah kenop kunci,
              : kekalahan yang sering memenangkan, atau kemenangan yang sering mengalahkan ?


2
suatu siang aku berharap. Semoga terik ini mengajarkan pada luka lukaku tentang kesedihan yag pekik. Hingga aku tak perlu lagi menyediakan airmataku menjadi jarum yang menjelujur dari mesin jahit.
Tik.Tik.Tik.Tik.
Kau ingat hujan ? jika kau ingat hujan, maka di rintik yang teratur itulah nama-nama kesedihan di kelompokkan. Mereka sama Run, langit meminta hujan merawat luka luka nilik bumi, sementara airmata mengirimkan jejarumnya  untuk menjahit luka waktu.
dan aku ?
aku diciptakaan rahim untuk menyaksikan bagaimana luka bumi dan luka waktu terus menganga. Run, selamanya luka ini akan bersarang di jantung seperti tujuh baris cahaya yang rekat  melilit  septima.


3
Kau masih menginginkan aku menuliskan cinta, rindu, dan lengan yang  dengan tegap membidik harapan ke dalam puisi. Baik, kutulis ini :

DALAM KEMAH

              : sajak Goenawan Mohamad

sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan-potongan pendek interupsi- lima menit, tujuh menit, empat…. dan aku akan menatapmu dalam tidur.

apakah yang bisa bikin kau lelap setalah percakapan? mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. di ruang yang melindungi kita untuk sementara  ini  aku, optimis, selalu menyangka gerimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. jam jadi terasa kecil. dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.

kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan kearah hutan.aku tak bisa memanggilnya.

aku dekap kamu.
Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.



4
detik detakmu
adalah jantung usia yang dikhianati waktu

TAK LUPA MEMBUBUHINYA DENGAN SESUATU.
KATANYA :

catatan :
tulisan ini, berkatan sekaligus ha
diah kecil untuk Arunawa yang katanya sedang melewati angka duapuluh enam. selamat.selamat.selamat. selamat menikmati usia yang kian memendek tanpa perlu takut.


salamsayangselalu,

-pucukpenawisanggeni-

untuk semuanya saya ucapkan terima kasiH Yipiiiiiing... hehehehehee....


SEKARANG dan LALU
sebenarnya adalah hasil penakaran dari apa yang kita sebut pola.
soal RASA sekali lagi satu dengan tubuh manusia yang bentuknya telah ALIF dari lahir.


Yippp....
aku akan mengikuti pola, sedikit bermain dengan ritmeku yang entah akan kau panggil dia dengan sebutan apa.
Rona rupa-rupa itu sebagai iramanya.
dan kita akan tetap menjadi joki (dramaturgis) dari sebuah sandiwara yang hampir menyerupai parodi bebas nilai.

diujung tumit kita rasa bahkan telah diterjemahkan dalam berbagai bentuk kepundan.

sekali lagi banyak yang mengelu soal ini, tak terkecuali kita kan?....

dikulit halus, pori yang anak pinak entah telah jutaan kali berkonspirasi dengan hati...
hasilnya lalu salur oleh motorik.

jadilah tawa, senyum, gembira, gugup, sedih, senang, haru, risih., LUKA...
dan segala yang kita kenal dengan rasa.

selalu begitu...
begitu seterusnya...

lalu...
tanya diri : seberapa kuat kita mengelola rasa...???.



gambar diambil dari
http://wb3.itrademarket.com/pdimage/22/636022_ekspresi2.jpg

dari mbak larass

Ini adalah rangkaian kata yang ditulis oleh teman dan sahabat saya di Multiply. katanya sebagai kado ulang tahun

A R U N A W A

Awal kujumpa pada ruang maya,
antara sesak nafas kata kata.
abstrak namun unabstrak

Ruang ini menjadi saksi
rajutan benang emas tak lagi terisolasi
riang selalu hadir, membuncah sepi. tiada sunyi

Ucapku kala itu "bolehkah ku berkawan denganmu?"

Nujum pun seakan memihak dan beriak di langit. sorak dan serentak!!

Ahaaaaa....adhesi!!

Wow...dia dia dia adalah teman yang menyenangkan
waktu singkat, kita pun erat meski seutuhnya samar melambai

Aku melenggang santai, berlayar melintasi keraguan. Pada hakekatnya teman hanya butuh kepercayaan, dukungan dan ketulusan pada dongeng-dongeng terajut mayapada, sesekali teman tak lain adalah cermin pada kesombongan diri. karena aku ingin belajar banyak hal darimu kawan, yang berada jauh dari pandangan namun dekat samudera letih maka biarkan aku menjadi bagian dalam ruang persahabatanmu meski aku hanya bagian yang terkecil pada pijakan kakimu.


Salam Larassati!!

******* ini kado yang kujanjikan Mas Arun, maaf yah terlambat dan maaf sekali hanya tulisan kacau balau dan tak bermakna yang kurangkai dari nama A R U N A W A karena aku lagi kehilangan kata hehe moga berkenan, terserah akan ditempel, dibuang, dibiarkan usang, dilupakan, diacuhkan atau diabadikan adalah hak Mas Arun yang penting Larass sudah menepati janji sebelum benar2 akan HIBERNASI :)

terima kasih buat mbak larass yang sudah membuat tali-tali kata ini buat saya.

2/24/2010

Lalu satu


Dulu sebelum sempat kau pagut rindumu.
 
terlebih dulu kusisipkan halus kerinduanku ditelinga bumi.

Tak hendak memijah siang.

Paut-paut kelingking yang jajar
solek-solek yang kemayu mayu.

Senyummu
tak pernah memberut
kita saling tahu itu dikornea

Siang mesti berlalu,

Bilal memecah membran timpani-ku.

Pagi yang ini masih tetap memautkan

luluh pada hati

lalu satu

Diyakin....



gambar dipinjam disini :
http://ngerumpi.com/baca/2009/12/24/untuk-sepotong-senja-di-akhir-tahun.html

2/14/2010

Hanya ingin Lega


Disini, diujung kota asing ini tengah kubahas sebagian lembaranku. Mencoba menemukan sesuatu yang tak tau bersembunyi dimana?.
 
Ditempat ini pula coba ku kumpulkan harapanku seperti mengepulkan asap tembakau yang ada diujung bibir.
Bertatap sahut bising knalpot kendaraan yang sumpek hilir lalu mudik.

Perjalanan ini bukannya tak kusadari sebagai usaha, lebih kumaknai sebagai matras yang bisa kugunakan sebagai penopang setelah membanting diri dari lompatan yang tinggi, dari bahaya yang menumpuk, sekaligus sebagai tempat istirahat sambil menghitung biji keringat yang mengguyur sudah ribuan kali.

Entah sudah patah berapa kali tulang kesabaranku yang susah mendiam akhir-akhir ini. Tewas beberapa waktu yang lalu, kemudian lahir kembali sebagai proses reingkarnasi jasad.

Sebenarnya kesabaran selalu diuji kadarnya, seberapa jauh kualitas manusia ini?... Haruskan terus mendaki atau mesti bervariasi menuruni semuanya yang sudah hampir setengah jalan.

Aku juga bingung karena mendiang sabar tak kunjung datang menemui semenjak kepergiannya diwaktu yang tak sempat kuingat kapan.

Ingin rasanya bermanja, tapi kepada siapa akan ku tempelkan rasa manja. Tubuh ini juga sudah kelewat kebal untuk sekedar memelow...

ya...

beginilah kawan hangatnya ujung kuku, sekali-kali akan hilang terpotong namun akan terus tumbuh selama masih ada jari. Bukankah hidup adalah upaya mengubah kesedihan?...

Sambil terduduk ini, aku semakin sengit mengelola kesedihanku.

Akhhhh......

Dasar nyamuk tak mengerti nadir. Sedot yang lain saja yang rasa darahnya masih segar. jangan aku.Kecuali kau sedot pula keresahanku hingga kubisa merasa sedikit lega.


Karena memang..
Aku hanya ingin lega malam ini.

kendari 140210, ketika berusaha tidur....


Gambar diambil dari sini : http://rebelzine.webs.com/771.jpg

1/23/2010

PUISI Ulang tahun Wisanggeni

Tidak kubawa lentera untuk menerangimu dalam rinai gulita.
Karena tak sanggup kubuat sendiri,
Sempat kurakit ingatanku untuk menemuimu
dalam tiga perempat malam dibulan bisu.

Sepengetahuanku yang sederhana,
kau tiba-tiba kesumat yang binarmu menyembuh
gores belati perih yang sudah menahun.

Kupanggil kau dalam kangkangan rembulan bisu,
untuk menakar makna aksara yang menjadi janin.
Ini  dia, bagiku gelapmu adalah kekasih bait garis diatas mistar.
kekasihmu adalah halaman putih,
dan wajahmu memapar dalam kolom bacaan kami.

Untuk kali ini semua setuju rindu berkalang adalah milikmu.
Binarmu yang itu sekali waktu akan menjadi penawar pahit.
Kemudian mereka bangkit dengan lisan yang menggagap.
aku yakin namamu akan memajang dipagi dan disore.
Lalu rindu berkalang akan menemukan jodohnya.

8/04/2009

Hela Nafas Tak Cukup

Kuhela nafas panjang tak karuan. Aku bingung malam ini aku tak menemukan diriku seperti biasanya. Kadang aku berpendapat dan bahkan bersikukuh bahwa akulah yang paling kuat. Kuat menempa segala yang orang lain belum tentu bisa melakukakannya. Seperti yang lain juga memaknai hidup, aku belajar meyakini apa yang telah aku putuskan. Keputusan yang mungkin orang lain tidak terima, atau sama sekali tak mau ambil pusing.
Hingga berkesimpulan bahwa “Terkadang memang hidup terlalu keras”, semakin keras hingga pilihan tak tahu yang mana. Terkadang pula aku merasa sangat kuat seperti kuatnya hatiku menepis semua yang menyengirku. Namun kadangkala aku terlalu lemah, bahkan sangat lemah. Aku tak bisa menyadarkan diriku sendiri atas harapan yang tak tahu akan berpangkal dimana atau bermuara kemana. Helaan nafas saja tentunya tak banyak membantu. Kadangpula ingin kurasakan seperti yang orang lain yang merasakan sederhana hidup tanpa beban berarti namun hakiki.
Mungkin jika orang lain menganggap bahwa memang kebingunagan yang kebanyakan merajai masa-masa sulit seperti ini, aku tak tahu justru apa yang aku rasakan saat ini. tak mampu kutemukan diriku yang yakin selama ini. walaupun jelas ini hanyalah kontemplasi yang pasti terjadi. Kuusahakan diriku sibuk untuk sekedar menyibak perasaan yang mungkin tak ada yang ada disekelilingku bisa mengetahui jangankan mengerti. Aku tak tahu ini salah atau memang inilah jalanku. Aku terlalu berani atau memang dasarnya aku yang tak pernah bersyukur.
Malam ini kutemukan lagi diriku menganga tanpa sadar, gelisah tak yakin apa yang telah kutempuh untuk hidupku, keluargaku dan orang-orang yang menyayangiku dalam hidup. Tak banyak yang kumengerti dari ubahnya tanah menjadi pasir atau kayu yang menjadi abu karena api. Mendengkur karena peluh yang terlalu menguasaiku. Aku masih bingung menemukan diriku dalam malam yang bercengkerama bersama suara jangkrik, dan suara keyboard computer karena ulahku.
Tahukah aku selama ini hanya bersembunyi dalam tawa yang kuciptakan untuk diriku dan senyum untuk orang-orang yang ada disekelilingku?. Aku hidup dala kungkungan tirai lembut namun menyakitkan. Menjadi harapan bahkan asa orang-orang yang menyayangiku. Berusaha bersembunyi dalam image yang sempurna ku buat untuk dipuji atau dicela. Aku tak tahu diri, terlalu angkuh, dan sekarang boleh dibilang capek. Capek mencari semua yang kuinginkan lewat trus yang dibebankan kepadaku hari ini. dan esok jika mungkin aku mengecewakan aku akan kemana, membayangkan senyuman orang-orang yang bangga kepadaku atau sinis yang optimis selalu dilemparkan mereka yang tidak sepaham dengan jalan pikiranku. Aku hanya selalu bersembunyi dalam tawa yang menyakitkan, dan dalam harapan yang belum terjawab…

Gadis

Tentang sang gadis itu, kumulai,

Pesolekmu kian menghantam kesadaranku membawanya kepada ketergantungan yang tak terdapat.
Puisi tak lagi indah buat kita yang selalu menjadi bayang dari kepongahan yang kita ciptakan sendiri.
Aku tak lagi mendapatkanmu sekali saja membayangiku akhir-akhir ini. Kemana bayangmu yang kusadari maya namun begitu kuat permainkan imaji?.
Mengapa tak pernah lagi kutemukan kamu menggodaku dengan senyum manismu kini.
Setiap hari yang dulu tak pernah kau lewatkan tanpaku. Romantisme cinta yang hanya sedikit orang mengerti maknanya saat ini.
Kita dan bayang-bayang kamu denganku telah tewas tergilas entahlah. Hedonisme memang telah menempatkan cinta itu tak lagi tinggal pada ranahnya yang kudus.
Dinafikan dan teraniaya oleh mereka yang menamakannya nafsu.

Sang gadis bagaimana?
Sedikit juga yang tahu bahwa luar biasanya kamu dalam khayalku, selalu membingkaimu mengalahkan segala yang tercantik,
segala yang terindah, dan segala yang menyenangkan. Tak ada selainmu dimanapun kecuali DIA TUHANKU.
Sang gadis sayang yang tak pernah ada lewat fantasi yang tak indah.
Engkau tahu karenamu kurelakan setiap tidurku tak nyenyak, setiap pikiranku tak karuan, dan setiap mimpiku hanya untukmu.
Sang gadis yang tak pernah ada selalu indah.
Terlalu manis….,
kurenungkan dan tempatmu diruang kosong yang kusiapkan hanya untukmu.
Mungkin esok aku tak lagi bisa berkhayal mengajakmu.
Entah esok kamu tak lagi mau kuajak berkeliling mengintari waktu yang kita ciptakan lewat sayang kita dalam hati satu sama lain.
Karena kau sang gadis yang tak pernah ada lagi untukku karena yang lain, atau aku tak lagi untukmu karena yang lain sekalipun itu kesibukan yang mengikismu.
karenanya aku minta maaf padamu.

Dan akhirnya kuakhiri untuk terakhir…
Demi gadis dalam khayal, demi cinta yang pergi tak menanda…